BENCANA HIDROMETEOROLOGI TERJANG 6 KECAMATAN, PEMKAB LUMAJANG TETAPKAN STATUS TANGGAP DARURAT

 

Lumajang, Suara Semeru – Pemerintah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, resmi menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi.

Keputusan ini diambil merespons gelombang bencana alam berupa tanah longsor dan banjir yang melanda sejumlah kecamatan akibat lonjakan curah hujan dan cuaca ekstrem pada peralihan musim.

"Langkah itu menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem, termasuk banjir dan tanah longsor," tegas Bupati Lumajang, Indah Amperawati.

PEMKAB PRIORITASKAN WARGA DI KAWASAN RAWAN DAN ALIRAN LAHAR

Bupati Lumajang yang akrab disapa Bunda Indah mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra, khususnya bagi warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) dan wilayah lereng rawan longsor.

Keselamatan warga di sekitar aliran lahar Gunung Semeru kini menjadi fokus perhatian utama Pemkab Lumajang, menyusul diterjangnya kawasan Besuk Kobokan oleh banjir lahar dingin.

Pemkab Lumajang memastikan kondisi masyarakat di sekitar lokasi banjir lahar terus dipantau secara ketat agar berada dalam kondisi aman.

Tragedi tanah longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, yang menewaskan seorang ayah dan anaknya, menjadi pengingat serius pentingnya mitigasi dan kewaspadaan dini masyarakat saat curah hujan tinggi.

"Saya meminta warga tetap meningkatkan kewaspadaan karena curah hujan masih tinggi," tutur Bunda Indah.

BPBD CATAT 6 KECAMATAN TERDAMPAK BENCANA

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, memaparkan bahwa fenomena hidrometeorologi ini telah memicu bencana di 6 kecamatan, yaitu:

Kecamatan Tempursari, Kecamatan Pronojiwo, Kecamatan Candipuro, Kecamatan Pasirian, Kecamatan Senduro, dan Kecamatan Jatiroto.

Di Kecamatan Tempursari, tepatnya di Desa Purorejo, akses jalan sempat terputus diterjang banjir lahar Semeru hingga mengisolasi 117 Kepala Keluarga (KK).

Bencana tersebut juga mengakibatkan tiga teras rumah roboh dan 10 rumah warga berada dalam kondisi rawan ambruk. Kendati demikian, BPBD mengonfirmasi bahwa kendala akses yang mengisolasi belasan KK tersebut saat ini telah berhasil ditangani.

IMBAUAN MITIGASI MANDIRI BAGI MASYARAKAT

Menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut, Pemerintah Kabupaten Lumajang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal.

Deteksi Dini: Warga diminta mengamati tanda-tanda awal pergerakan tanah atau kerapuhan lereng saat hujan deras turun.

Tindakan Cepat: Jika mengindikasikan bahaya, warga diimbau segera mengungsi ke tempat aman dan berkoordinasi dengan petugas lapangan setempat.

Sinergi dan kewaspadaan bersama menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa serta melindungi keselamatan keluarga di tengah tingginya ancaman bencana hidrometeorologi. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar