Lumajang, Suara Semeru — Ketahanan pangan bukan lagi sekadar urusan teknis dinas pertanian, melainkan telah bermetamorfosis menjadi isu keamanan nasional yang strategis. Menyadari pergeseran paradigma ini, Polsek Lumajang Kota tidak lagi membatasi diri pada patroli jalanan. Melalui pengawalan Program Asta Cita Presiden, jajaran Bhabinkamtibmas kini menjelma sebagai "garda terdepan" di tengah hamparan lahan pertanian warga, Kamis (15/10/2026).
Jajaran Bhabinkamtibmas Polsek Lumajang Kota turun langsung
ke batas lahan pertanian untuk melakukan pengecekan vegetatif tanaman jagung.
Namun, agenda mereka bukan sekadar basa-basi di bawah terik matahari.
Pengecekan kondisi daun dan pertumbuhan tanaman ini sejatinya adalah bentuk
early warning system (sistem peringatan dini). Mereka memastikan tidak ada
ancaman hama, gangguan iklim mikro, atau potensi sengketa lahan yang bisa
mendegradasi produktivitas pangan warga.
PERLUASAN MAKNA KAMTIBMAS
Kapolsek Lumajang Kota, Iptu Zainul Abidin, S.H., menegaskan
bahwa kehadiran anggotanya di sawah dan ladang adalah manifestasi dari
perluasan makna Kamtibmas. Keamanan tidak lagi hanya diukur dari bebasnya
wilayah dari kriminalitas, tetapi juga dari terjaminnya stabilitas ekonomi dan
perut masyarakat.
"Kehadiran Bhabinkamtibmas di area persawahan adalah
langkah konkret mengawal suksesnya Program Asta Cita Presiden. Kami tidak hanya
datang sebagai aparat, tetapi sebagai pendamping dan katalisator produktivitas.
Kami ingin memastikan pengolahan lahan utama hingga optimalisasi pekarangan
pangan bergizi berjalan tanpa hambatan," tegas Iptu Zainul.
Pernyataan ini menandakan bahwa Polri di tingkat kecamatan
kini mengambil peran proaktif, bukan lagi reaktif. Mereka hadir untuk
memotivasi dan mencegah kegagalan panen sebelum terjadi, yang pada akhirnya bisa
memicu kerawanan sosial dan ekonomi.
MENYERAP 'INTELIJEN SOSIAL' DARI LAHAN
Di balik aktivitas pemantauan ini, tersimpan strategi
komunikasi yang lebih dalam. Lahan pertanian adalah ruang sosial di mana
aspirasi dan keluhan warga paling jujur terucap. Dengan turun langsung,
Bhabinkamtibmas menyerap apa yang bisa disebut sebagai "intelijen
sosial" mengenai potensi kendala di lapangan.
"Melalui interaksi langsung, kami bisa memetakan dan
mendengarkan kendala yang dihadapi warga sebelum masalah itu membesar.
Pendampingan berkelanjutan ini bertujuan menjaga produktivitas tanaman pangan,
baik jagung maupun padi, agar hasil panen maksimal dan tidak merugikan
petani," tambahnya.
Pendekatan ini sangat krusial. Seringkali, masalah seperti
kelangkaan pupuk, fluktuasi harga, atau alih fungsi lahan baru terdeteksi
ketika sudah menjadi konflik. Kehadiran Bhabinkamtibmas memutus mata rantai
masalah tersebut sejak dari hulu.
KETAHANAN PANGAN ADALAH FONDASI KEAMANAN NEGARA
Bagi Iptu Zainul, sinergi antara aparat dan petani di akar
rumput ini pada akhirnya bukan sekadar program seremonial, melainkan strategi
pertahanan negara yang dimulai dari petak-petak tanah di Lumajang.
"Ketahanan pangan merupakan fondasi penting bagi
kesejahteraan masyarakat. Jika pangan terjaga, maka stabilitas keamanan akan
otomatis terwujud. Kolaborasi yang baik antara Bhabinkamtibmas dan warga di
lapangan menjadi kunci utama dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan
nasional," pungkasnya.
Langkah Polsek Lumajang Kota ini memberikan contoh nyata bahwa
ketika institusi kepolisian turun ke level paling akar untuk mengawal produksi
pangan, mereka sedang membangun fondasi kesejahteraan yang paling kokoh bagi
bangsa. (yon)

0 Komentar