DI BALIK ASAP BLOK BANTENGAN: PERTARUNGAN MELAWAN WAKTU DAN MEDAN BERAT DI JANTUNG TNBTS

Lumajang, Suara Semeru – Kobaran api di Blok Bantengan, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, pada Rabu 21 Oktober 2026 bukan sekadar insiden rutin. Ini adalah peringatan keras yang kembali mengguncang ekosistem Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dengan luas lahan terbakar mencapai 3 hektar, operasi pemadaman yang digerakkan oleh Polres Lumajang bersama tim gabungan mengungkap betapa rentannya kawasan konservasi ini terhadap ancaman kebakaran, serta betapa beratnya tantangan logistik di medan yang dikenal terjal dan sulit dijangkau.

Taktik dan Sinergi di Medan Berat

Menyadari kompleksitas medan di Blok Bantengan yang secara historis kerap menjadi titik rawan kebakaran berulang , Kapolres Lumajang, AKBP Riki Yariandi, S.H., S.I.K., M.H., mengambil langkah responsif yang terukur. Sejak pukul 08.00 WIB, ia mengerahkan pasukan gabungan yang terdiri dari 25 personel Polri, 20 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), dan 10 petugas TNBTS.

"Sinergi seluruh unsur ini sangat krusial agar penanganan titik api di Blok Bantengan dapat dilakukan secara cepat dan terukur," tegas AKBP Riki Yariandi di lokasi kejadian.

Namun, jumlah personel saja tidak cukup untuk menaklukkan medan konservasi yang curam. Tim gabungan dipaksa mengandalkan dukungan logistik dan armada taktis yang signifikan. Armada yang diterjunkan mencerminkan skala operasi ini: 1 unit Truk Dinas Baglog Polres Lumajang untuk mobilitas personel, 1 unit R4 Strada Polsek Senduro, 1 unit R4 Isuzu D-Max Sat Samapta Polres Lumajang, serta 1 unit R4 dan 1 unit R3 Triseda milik TNBTS.

Yang paling krusial, tim di lapangan membawa 4 unit tandon air berkapasitas 1.000 liter dan 4 unit alat semprot pemadam kebakaran. Langkah ini diambil untuk memaksimalkan proses wetting (pembasahan) guna mematikan sisa bara api yang berpotensi menyala kembali, sebuah taktik yang sering kali terhambat oleh keterbatasan pasokan air di ketinggian .

"Pengerahan kendaraan taktis pendukung pasokan air dan tandon berkapasitas 1.000 liter ini kami maksimalkan untuk menyemprot serta membasahi area yang terbakar," jelas Kapolres Riki. "Berkat kerja keras seluruh tim di lapangan, luas area terdampak dapat dilokalisir di kisaran 3 hektar dan seluruh rangkaian kegiatan pemadaman berjalan dengan aman serta lancar."

Bayang-bayang Ancaman Berulang dan Akar Masalah

Insiden ini harus dibaca dalam konteks yang lebih luas dan mengkhawatirkan. Blok Bantengan, yang berada di area perbatasan, memiliki catatan kelam sebagai titik awal kebakaran yang berpotensi meluas. Data di lapangan menunjukkan bahwa api di area ini kerap kali berasal dari aktivitas di luar kawasan konservasi, seperti pembakaran ladang warga atau penggunaan api oleh pendaki di "jalur tikus" yang merambat ke area lindung , .

Ekosistem TNBTS adalah paru-paru Jawa Timur dan rumah bagi keanekaragaman hayati endemik, termasuk macan tutul jawa. Setiap hektar yang hangus bukan hanya berarti kehilangan vegetasi, tetapi juga degradasi habitat satwa dan peningkatan risiko bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor di musim hujan.

Pengawasan Dinamis dan Imbauan Tegas

Meskipun api berhasil dikendalikan pada Selasa sore, ancaman belum sepenuhnya usai. Angin kering dan kondisi vegetasi mati yang mudah terbakar membuat situasi tetap dinamis. Polres Lumajang memastikan bahwa pemantauan di kawasan TNBTS Resort Ranupani akan terus dilakukan secara berkala, dengan laporan berjenjang yang langsung disampaikan kepada Polda Jawa Timur untuk memastikan kesiapan jika terjadi eskalasi.

Menutup keterangannya, AKBP Riki Yariandi memberikan peringatan tegas kepada publik. "Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat dan pengunjung kawasan TNBTS untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang memicu timbulnya titik api baru," pungkasnya. "Kami akan terus memantau perkembangan situasi Karhutla ini secara intensif dan melaporkan update kondisi terkini pada kesempatan pertama."

Analisis: Kemenangan Taktis, Bukan Strategis

Keberhasilan memadamkan 3 hektar api di Blok Bantengan dalam waktu relatif singkat adalah sebuah kemenangan taktis yang patut diapresiasi. Namun, ini belum bisa disebut sebagai kemenangan strategis. Selama pengawasan di perbatasan kawasan, penertiban jalur pendakian tidak resmi, dan edukasi ekologis bagi wisatawan belum menjadi prioritas bersama yang ditegakkan secara tegas, TNBTS akan terus menjadi "bom waktu" di setiap musim kemarau.

Sinergi antara aparat penegak hukum, masyarakat, dan pengelola taman nasional harus bertransformasi. Mereka tidak boleh hanya berperan sebagai pemadam kebakaran yang reaktif, tetapi harus menjadi penjaga gawang yang proaktif sebelum asap pertama kali mengepul. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar