Lumajang, Suara Semeru — Paradigma keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Indonesia tengah mengalami pergeseran makna yang fundamental. Keamanan tidak lagi sekadar berbicara tentang pencegahan kriminalitas jalanan, melainkan telah merembet ke sektor vital: ketahanan pangan.
Wajah baru inilah yang secara nyata dipertontonkan oleh
jajaran Polsek Tempursari, Lumajang. Di tengah hamparan hijau ladang jagung
Dusun Tegalrejo, Desa Tegalrejo, Rabu (14/10/2026), seragam cokelat Polri
dengan ban lengan kuning khas Bhabinkamtibmas tampak kontras namun harmonis
dengan para petani. Mereka tidak sedang menyisir daerah rawan kejahatan,
melainkan sedang mengaudit kesiapan panen dan mengawal ambisi besar negara.
Langkah ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah eksekusi
lapangan dari Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang menargetkan
swasembada pangan nasional. Bagi Polri, khususnya di tingkat Polsek, ketahanan
pangan kini diterjemahkan sebagai isu keamanan nasional.
INTERVENSI POLRI DI HULU PERTANIAN
Kapolsek Tempursari, Iptu Sukirno, S.H., menyadari betul
bahwa ancaman terhadap ketahanan pangan tidak selalu berbentuk hama atau cuaca,
tetapi juga gangguan sosial, sengketa lahan, hingga pencurian hasil panen yang
kerap merugikan petani. Kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah ladang adalah
bentuk intervensi preventif Polri untuk mengamankan rantai pasok dari hulu.
"Kami jajaran Polsek Tempursari berkomitmen penuh
mendukung Program Asta Cita Presiden. Melalui Bhabinkamtibmas, kami turun
langsung mendampingi para petani mulai dari proses penanaman, pemeliharaan,
hingga memantau kondisi tanaman jagung yang siap panen seperti di Dusun
Tegalrejo ini," tegas Iptu Sukirno di sela-sela peninjauan, Rabu (14/10).
Pernyataan Kapolsek ini mengonfirmasi bahwa doktrin kepolisian
kini telah beradaptasi dengan tantangan zaman. Bhabinkamtibmas tidak lagi hanya
menjadi "polisi tidur" di lingkungan perumahan, melainkan
bertransformasi menjadi fasilitator dan pengawal aset ekonomi masyarakat.
STRATEGI MAKRO DAN MIKRO: JAGUNG DAN PEKARANGAN
Yang membuat pendampingan di Tempursari ini menarik untuk
dikaji lebih dalam adalah pendekatan ganda (dual-track approach) yang dilakukan
Polri setempat. Di satu sisi, mereka mengawal komoditas makro strategis seperti
jagung yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah dan nasional. Di
sisi lain, mereka juga menggerakkan pendekatan mikro melalui program
pemanfaatan pekarangan pangan bergizi.
Iptu Sukirno menjelaskan bahwa pendampingan ini dirancang
untuk menciptakan ekosistem ketahanan pangan yang komprehensif, dari level
nasional hingga level dapur warga.
"Pendampingan ini tidak hanya sebatas pemantauan,
tetapi juga memberikan dorongan moral dan membantu warga dalam menggerakkan
pekarangan pangan bergizi. Kami ingin memastikan para petani merasa didampingi
sehingga hasil pertanian, khususnya tanaman jagung di wilayah Tempursari, dapat
maksimal," paparnya.
Strategi ini sangat relevan. Jika jagung menjamin
ketersediaan kalori dan pakan ternak secara nasional, maka pekarangan pangan
bergizi menjamin ketersediaan vitamin dan mineral bagi keluarga petani itu
sendiri. Polri, melalui Bhabinkamtibmas, memposisikan diri sebagai katalisator
yang memastikan kedua ekosistem ini berjalan tanpa gangguan gangguan keamanan.
SINERGI SEBAGAI KUNCI SWASEMBADA
Tantangan terbesar dalam mewujudkan swasembada pangan di
Indonesia seringkali bukan pada kesuburan tanah, melainkan pada fragmentasi
lahan, alih fungsi lahan, dan rendahnya rasa aman petani dalam berinvestasi
waktu dan biaya di lahannya. Kehadiran fisik Bhabinkamtibmas di Desa Tegalrejo
adalah jawaban atas kerentanan tersebut.
Iptu Sukirno menutup peninjauannya dengan sebuah optimisme
yang berlandaskan pada kolaborasi. Ia menyadari bahwa target swasembada pangan
tidak bisa dicapai oleh Kementerian Pertanian atau Polri secara sendirian.
"Sinergi antara Polri dan warga adalah kunci utama
dalam mewujudkan swasembada pangan. Kami optimistis, dengan kerja keras bersama
seluruh elemen masyarakat, wilayah Kecamatan Tempursari dapat memberikan
kontribusi nyata bagi ketahanan pangan bangsa," pungkasnya.
Apa yang dilakukan di ladang jagung Tegalrejo hari ini
adalah potret kecil dari wajah keamanan Indonesia di tahun 2026. Di mana garis
batas antara "menjaga negara dari musuh" dan "menjaga negara
agar tidak kelaparan" telah lebur menjadi satu misi: kedaulatan dan
kesejahteraan rakyat. (har)

0 Komentar