ANTREAN PERTALITE LUMAJANG MENGULAR, DISTRIBUSI TERSENDAT AKIBAT KEMACETAN KETAPANG

Lumajang, Suara Semeru — Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Lumajang, kembali menjadi persoalan bagi masyarakat.

Di tengah kebutuhan BBM yang tinggi, pasokan Pertalite tersendat bukan karena ketiadaan stok semata, melainkan akibat terganggunya jalur distribusi dari Banyuwangi menuju wilayah Jember, Lumajang, dan sekitarnya.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyebut kemacetan parah di kawasan Ketapang, Banyuwangi, menjadi salah satu faktor utama yang memperlambat kedatangan mobil tangki ke SPBU. Jalur distribusi yang terganggu membuat waktu tempuh armada pengangkut BBM menjadi lebih panjang dan berdampak langsung pada ketersediaan pasokan di tingkat SPBU.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan antrean panjang di sejumlah SPBU terjadi karena kendala distribusi tersebut.

“Antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU dipicu oleh kendala distribusi akibat kemacetan panjang di wilayah Ketapang, Banyuwangi, yang berdampak pada waktu tempuh mobil tangki menuju SPBU,” kata Ahad dalam keterangan tertulisnya, yang termonitor Radio Semeru FM, Kamis 10 September 2026.

KEMACETAN 12 KILOMETER GANGGU RANTAI PASOK

Kemacetan di jalur Ketapang dilaporkan mencapai sekitar 12 kilometer. Kondisi itu terjadi di tengah kegiatan revitalisasi kapasitas dermaga ASDP, yang membuat arus kendaraan di kawasan penyeberangan tersebut tersendat.

Persoalan ini menunjukkan betapa sensitifnya distribusi BBM terhadap gangguan di jalur logistik. Ketika waktu tempuh mobil tangki bertambah, pasokan yang seharusnya tiba sesuai jadwal ikut tertunda. Dampaknya kemudian terasa di SPBU, terutama ketika kebutuhan masyarakat tetap tinggi.

Masalah distribusi tersebut diperburuk oleh meningkatnya konsumsi Pertalite. Pertamina menyebut kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan BBM memicu pembelian berlebihan atau panic buying.

Situasi ini menciptakan efek berantai: distribusi yang terlambat memicu kekhawatiran, kekhawatiran mendorong pembelian lebih banyak, sementara lonjakan pembelian semakin cepat menguras stok di SPBU.

PERTAMINA TAMBAH PASOKAN HINGGA 110 PERSEN

Untuk meredam tekanan tersebut, Pertamina mengklaim telah meningkatkan pasokan Pertalite ke Lumajang hingga sekitar 110 persen dibandingkan stok awal.

Pertamina juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait di Jember, Lumajang, serta wilayah sekitarnya untuk memetakan kebutuhan BBM, menentukan prioritas pengiriman, dan mengoptimalkan skema alih suplai.

Pengiriman akan diprioritaskan ke SPBU yang berada di kawasan pusat kota, yang dinilai memiliki kebutuhan dan aktivitas kendaraan cukup tinggi.

Langkah ini menjadi penting karena persoalan yang dihadapi bukan sekadar soal jumlah BBM, tetapi bagaimana pasokan tersebut dapat bergerak dari terminal hingga sampai ke SPBU dalam waktu yang tepat.

JALUR ALTERNATIF DISIAPKAN

Pertamina juga berkoordinasi dengan Integrated Terminal (IT) Tanjungwangi agar distribusi menuju SPBU pusat kota dapat diprioritaskan. Dukungan alih suplai dari IT Surabaya dan IT Malang turut diupayakan untuk memperkuat pasokan di wilayah terdampak.

Strategi tersebut diarahkan untuk mengurangi tekanan pada satu jalur distribusi sekaligus membuat armada lebih fleksibel dalam memenuhi kebutuhan BBM di Jember, Lumajang, dan daerah sekitarnya.

Namun, tambahan pasokan tidak otomatis menghilangkan antrean apabila laju konsumsi masyarakat meningkat tajam. Karena itu, Pertamina meminta masyarakat tidak membeli BBM secara berlebihan.

Kondisi di Lumajang pada akhirnya memperlihatkan bahwa gangguan distribusi BBM dapat dengan cepat berkembang menjadi persoalan di tingkat konsumen. Kemacetan di satu titik jalur logistik dapat merambat hingga SPBU dan memengaruhi aktivitas masyarakat yang bergantung pada ketersediaan BBM setiap hari.

Pertamina memastikan penyaluran BBM terus dipantau dan pasokan akan disesuaikan dengan kebutuhan hingga kondisi kembali normal. Masyarakat juga diminta membeli BBM sesuai kebutuhan agar stok yang tersedia dapat didistribusikan secara merata.

Jika ditemukan indikasi penyalahgunaan BBM subsidi atau pelayanan SPBU yang tidak sesuai ketentuan, masyarakat dapat melaporkannya melalui Pertamina Contact Center 135 untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar