Lumajang, Suara Semeru — Semangkuk nasi sudah tersaji. Lauk kesukaan anak pun telah diletakkan di sampingnya. Namun, alih-alih segera menyantap, si kecil justru berlari menjauh.
Bujuk rayu sudah dicoba. Mainan dijanjikan. Bahkan, tak
jarang orang tua harus mengejar anak dari satu ruangan ke ruangan lain hanya
demi memasukkan beberapa suap makanan ke mulutnya.
Bagi sebagian keluarga, adegan semacam itu bukan kejadian
sesekali. Waktu makan bisa berubah menjadi momen yang melelahkan, bahkan memicu
ketegangan antara anak dan orang tua.
Namun, benarkah anak yang susah makan semata-mata karena
tidak memiliki nafsu makan?
Pertanyaan itulah yang coba dibedah Allia Kids dalam talk
show program Panorama Pagi Radio Semeru FM, Senin (7/9/2026). Mengangkat tema “Anak Susah Makan, Orang Tua Harus
Bagaimana? Bongkar Penyebab dan Solusinya,” dialog tersebut menghadirkan
Agus Salim, S.H., C.Ht., CM.NNLP., bersama Adin Rochman Hadi, selaku Hipnoterap
Anak Takut Nasi.
Pembahasan tidak berhenti pada soal seberapa banyak makanan
yang mampu dihabiskan anak. Lebih jauh, dialog mengajak orang tua melihat
hubungan anak dengan makanan, termasuk pengalaman, kebiasaan, lingkungan,
hingga respons psikologis yang mungkin memengaruhi perilaku makan.
KETIKA MEJA MAKAN MENJADI ARENA KONFLIK
Anak yang sulit makan sering kali menjadi sumber kecemasan
bagi orang tua. Terlebih jika kebiasaan tersebut berlangsung cukup lama.
Kekhawatiran terhadap kebutuhan nutrisi anak perlahan dapat
berubah menjadi tekanan. Orang tua meminta anak menghabiskan makanan, sementara
penolakan demi penolakan justru membuat kecemasan semakin besar.
Tanpa disadari, terciptalah siklus yang berulang. Anak
semakin enggan makan, orang tua semakin khawatir, dan meja makan pun terasa
seperti arena pertarungan kecil setiap hari.
Padahal, respons anak terhadap makanan dapat dipengaruhi
banyak hal. Pengalaman tidak menyenangkan saat makan, tekanan ketika disuapi,
pola kebiasaan yang terbentuk sejak dini, hingga rasa takut terhadap jenis
makanan tertentu bisa ikut membentuk persepsi anak terhadap aktivitas makan.
Termasuk ketika anak menolak nasi. Melalui program ‘Spesialis
Hipnoterapi Anak Takut Nasi’, Allia Kids memperkenalkan pendekatan yang menaruh
perhatian pada aspek perilaku dan psikologis anak ketika menghadapi makanan.
Gagasannya sederhana: memahami terlebih dahulu alasan di
balik penolakan anak sebelum orang tua menentukan langkah untuk mengatasinya.
ANAK LAHAP, ORANG TUA TENANG
Allia Kids membawa pesan “Anak Lahap, Orang Tua Tenang.”
Pesan tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya membuat
anak makan dalam jumlah banyak. Lebih dari itu, perhatian diarahkan pada
bagaimana membangun pengalaman makan yang lebih positif serta membantu orang
tua memahami pola perilaku anak.
Agus Salim yang diperkenalkan sebagai praktisi hipnoterapi
dan Master NLP menyampaikan, persoalan makan pada anak tidak hanya berkaitan
dengan kemauan untuk makan.
“Selain persoalan anak yang takut nasi, Allia Kids juga
menyoroti pentingnya pola makan yang mendukung tumbuh kembang anak secara
optimal,” ungkapnya.
Menurutnya, di balik persoalan anak susah makan terdapat
berbagai faktor yang perlu diperhatikan. Mulai dari kebiasaan, lingkungan, pola
komunikasi, hingga cara orang tua merespons perilaku anak saat makan.
Adin Rochman Hadi, selaku Hipnoterap Anak Takut Nasi,
menambahkan, suasana makan yang lebih tenang menjadi bagian penting dalam
membangun pengalaman positif bagi anak. Orang tua, kata dia, tidak hanya
dituntut menyediakan makanan bergizi.
“Mereka juga perlu menciptakan suasana makan yang tidak
dipenuhi tekanan sehingga anak tidak mengasosiasikan waktu makan dengan
pengalaman yang menakutkan atau tidak menyenangkan,” tegasnya.
BUKAN PENGGANTI PEMERIKSAAN MEDIS
Meski pendekatan psikologis dan perilaku dapat menjadi salah
satu pilihan pendamping, hipnoterapi tetap bukan pengganti pemeriksaan medis.
Kesulitan makan yang berlangsung terus-menerus, penurunan
berat badan, gangguan pertumbuhan, atau munculnya gejala kesehatan tertentu
tetap membutuhkan evaluasi dokter maupun tenaga kesehatan yang kompeten.
Sebab, di balik label “anak susah makan”, penyebabnya bisa
sangat beragam.
Karena itu, langkah pertama orang tua tidak selalu harus
berupa satu bujukan lagi, satu suapan lagi, atau memaksa anak menghabiskan makanan.
Ada kalanya orang tua justru perlu berhenti sejenak,
mengamati, lalu bertanya: mengapa anak menolak makanan tersebut?
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi pintu masuk untuk
memahami persoalan makan anak secara lebih utuh.
Pada akhirnya, meja makan tidak harus menjadi arena
pertarungan antara orang tua dan anak. Ia bisa kembali menjadi ruang untuk
tumbuh, belajar mengenal makanan, dan membangun pengalaman makan yang aman,
nyaman, serta menyenangkan.
Allia Kids beralamat di Perumahan Adara Park 2, Blok D-17, merupakan
satu-satunya yang ada di Kabupaten Lumajang, dan informasi layanan dapat
diperoleh melalui nomor 0823 3838 5767 dan situs www.alliakids.com. (yon)

0 Komentar