PEMERINTAH PERKUAT MITIGASI SEMERU, TANGGUL DAN CHECK DAM DIBANGUN DI KAWASAN RAWAN BENCANA

Lumajang, Suara Semeru – Pemerintah terus memperkuat mitigasi bencana di kawasan rawan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, dengan membangun infrastruktur pengendali aliran material vulkanik.

Tanggul pengaman di Curah Lengkong dan dua unit check dam di Desa Supiturang telah berdiri sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana terhadap masyarakat yang berada di kawasan rawan aliran material vulkanik.

Pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memperkuat sistem pengendalian material vulkanik di sekitar kawasan Gunung Semeru.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan keberadaan infrastruktur tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam mengurangi risiko bencana, terutama bagi wilayah yang berada di jalur aliran material vulkanik.

“Pembangunan tanggul pengaman di Curah Lengkong serta dua unit check dam di Desa Supiturang telah berdiri,” kata Isnugroho, Rabu 26 Agustus 2026.

Menurutnya, pembangunan tersebut menunjukkan langkah antisipasi pemerintah dalam memperkuat perlindungan masyarakat di kawasan rawan bencana Gunung Semeru.

“Pemerintah pusat melalui BBWS bergerak proaktif memperkuat infrastruktur mitigasi bencana di kawasan rawan letusan Gunung Semeru,” ujarnya.

Tanggul pengaman dan check dam merupakan bagian dari infrastruktur pengendali aliran material. Bangunan tersebut diharapkan mampu menahan atau memperlambat aliran material vulkanik sehingga dampaknya terhadap kawasan yang berada di jalur aliran dapat ditekan.

Ancaman tersebut perlu menjadi perhatian, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan hulu Semeru. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi terjadinya aliran lahar.

Isnugroho menegaskan, keberadaan infrastruktur fisik tetap harus diikuti dengan kesiapsiagaan masyarakat serta pemantauan kondisi kebencanaan secara berkala.

“Dengan adanya infrastruktur tersebut, aliran material vulkanik diharapkan dapat lebih terkendali sehingga potensi dampaknya terhadap kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat dapat ditekan,” jelasnya.

Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan Semeru juga diminta memahami lingkungan tempat tinggalnya, mengenali jalur serta potensi ancaman bencana, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah maupun petugas kebencanaan.

Mitigasi bencana tidak cukup hanya mengandalkan bangunan pengendali. Kesiapsiagaan warga, sistem peringatan dini, pemantauan kondisi sungai dan kawasan hulu, serta koordinasi antarinstansi tetap menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana.

Pembangunan tanggul dan check dam menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan ketangguhan wilayah. Infrastruktur tersebut diharapkan memberikan perlindungan tambahan sekaligus mendukung masyarakat dalam menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi dengan tingkat kesiapsiagaan yang lebih baik.

Isnugroho menegaskan mitigasi harus dilakukan sebelum bencana terjadi melalui kombinasi penguatan infrastruktur, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, dan koordinasi lintas sektor.

“Dengan langkah mitigasi yang terintegrasi ini, Lumajang kini jauh lebih tangguh dalam menghadapi potensi amukan alam,” pungkasnya.

Bagi masyarakat di kawasan rawan Semeru, pembangunan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga keselamatan. Tanggul dan check dam memberikan perlindungan tambahan, sementara kewaspadaan serta kesiapsiagaan warga tetap menjadi kunci menghadapi potensi bencana. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar