Lumajang, Suara Semeru — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Wonocepokoayu, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan. Warga juga menghidupkan tradisi jolen atau iring-iringan hasil bumi sebagai bagian dari perayaan sekaligus upaya menjaga warisan budaya masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut digelar pada Senin sore (24/8/2026). Warga membawa beragam hasil bumi yang kemudian diarak dalam iring-iringan. Tradisi itu menjadi pemandangan tersendiri karena hasil pertanian masyarakat tidak sekadar dipandang sebagai komoditas, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil yang diperoleh.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya diikuti umat Muslim. Sejumlah umat Hindu di Desa Wonocepokoayu juga turut ambil bagian dalam rangkaian jolen. Keterlibatan lintas umat tersebut menjadi gambaran kuatnya toleransi dan kerukunan masyarakat di tengah keberagaman kehidupan sosial dan keagamaan di Desa Wonocepokoayu.
Keikutsertaan umat Hindu dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi ruang bersama untuk mempererat hubungan antarmasyarakat. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bergotong royong dan menjaga budaya yang telah diwariskan para leluhur.
Jolen menjadi salah satu bentuk ekspresi kebersamaan warga. Masyarakat dari berbagai kalangan ikut terlibat dalam kegiatan tersebut, mulai dari menyiapkan hasil bumi hingga mengikuti prosesi iring-iringan.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi semacam ini dinilai memiliki nilai penting karena menjadi penghubung antara generasi tua dan generasi muda. Nilai budaya yang diwariskan leluhur tidak hanya dipertahankan dalam bentuk seremoni, tetapi juga diperkenalkan secara langsung kepada anak-anak dan remaja.
Tokoh masyarakat Desa Wonocepokoayu, Ismail, mengatakan kegiatan jolen merupakan bagian dari upaya masyarakat mempertahankan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Ini wujud melestarikan budaya leluhur, Mas,” ungkap Ismail.
Menurutnya, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dilakukan oleh generasi yang lebih tua. Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting agar budaya lokal tetap dikenal dan tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Selain menjaga budaya, keterlibatan masyarakat lintas agama dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dalam merawat toleransi. Kebersamaan warga dalam satu rangkaian kegiatan memperlihatkan bahwa kehidupan sosial masyarakat dapat tetap berjalan harmonis meski memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda.
Tradisi jolen juga memperlihatkan eratnya hubungan antara kehidupan sosial, budaya, dan aktivitas pertanian masyarakat Wonocepokoayu. Hasil bumi yang diarak menjadi gambaran kehidupan warga yang sebagian menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian.
Hasil bumi dalam jolen sekaligus menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diperoleh. Dari hasil pertanian tersebut, warga kemudian berbagi kebahagiaan melalui sebuah tradisi yang melibatkan masyarakat secara bersama-sama.
Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang memperkuat kebersamaan warga. Prosesi iring-iringan membuat masyarakat berkumpul dan berinteraksi dalam suasana perayaan Maulid Nabi.
Bagi warga Wonocepokoayu, mempertahankan jolen bukan semata-mata menjaga sebuah tradisi lama. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cara untuk merawat identitas budaya desa, memperkuat toleransi antarumat beragama, sekaligus mewariskan nilai kebersamaan dan rasa syukur kepada generasi berikutnya.
Dengan tetap dilaksanakannya tradisi tersebut, masyarakat berharap jolen tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi terus menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Wonocepokoayu. Tradisi itu diharapkan tetap hidup sebagai ruang perjumpaan warga, sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam menjaga budaya dan kerukunan.
(yon)

0 Komentar