BIDAN DI GARDA AWAL: FONDASI GENERASI EMAS 2045 DIMULAI DARI KAMAR BERSALIN

 

Lumajang, Suara Semeru - Upaya mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak semata ditentukan oleh pendidikan formal di bangku sekolah. Fondasi kualitas sumber daya manusia justru dibangun sejak masa kehamilan, persalinan, hingga tumbuh kembang anak pada usia dini. Dalam fase inilah peran bidan menjadi krusial sebagai garda terdepan kesehatan ibu dan anak.

Pesan itu disampaikan Ketua Tim Penggerak TP PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, pasca menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Bidan Indonesia di Stadion Semeru, 5 Juli 2026.

Menurut Dewi Natalia, bidan bukan hanya bertugas membantu proses persalinan, tetapi juga mendampingi keluarga sejak awal kehidupan seorang anak. Peran tersebut, kata dia, menjadi bagian penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia sekaligus memperkuat fondasi menuju Generasi Emas 2045.

“Kesiapan Generasi Emas 2045 tidak lahir di istana yang megah, tetapi lahir di kamar bersalin dan disambut dengan sentuhan lembut tangan-tangan bidan. Sehat tidaknya mereka 20 tahun lagi ditentukan oleh bidan hari ini,” ujarnya.

Ia menilai, tantangan pembangunan kesehatan saat ini membuat peran bidan semakin meluas. Selain pelayanan kebidanan, bidan juga berfungsi sebagai pendamping keluarga, penggerak edukasi kesehatan, mitra pemerintah dalam kesehatan ibu dan anak, serta aktor penting dalam percepatan penurunan stunting di tingkat desa.

“Bidan bukan hanya penolong persalinan. Bidan adalah pemimpin kesehatan di desa, pemimpin data, dan pemimpin edukasi,” kata dia.

Melalui 10 Program Pokok PKK, TP PKK Kabupaten Lumajang disebut terus memperkuat kolaborasi dengan para bidan. Tujuannya memastikan pemenuhan hak perempuan dan anak sejak masa kehamilan, termasuk pemberian ASI eksklusif, perbaikan gizi balita, hingga edukasi kesehatan keluarga.

Dewi Natalia menegaskan, pembangunan generasi unggul tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan. Diperlukan sinergi antara keluarga, pemerintah, organisasi profesi, kader PKK, hingga masyarakat agar setiap ibu dan anak mendapat pendampingan optimal sejak awal kehidupan.

Ia juga menyinggung tantangan profesi bidan yang kian kompleks, mulai dari perubahan sosial hingga perkembangan teknologi pelayanan kesehatan. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru muncul ketika masyarakat kehilangan akses terhadap bidan, terutama di wilayah pedesaan.

“Tantangan bidan ke depan memang berat, tetapi seberat-beratnya tantangan bidan, lebih berat lagi jika di desa tidak ada bidan desanya,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat dukungan kepada para bidan. “Mari kita bergandengan tangan, jangan biarkan bidan berjuang sendiri. Ikut menjaga perjuangan bidan berarti ikut menjaga keselamatan ibu dan bayi, sekaligus menjaga masa depan Generasi Emas Indonesia 2045,” katanya.

Bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang, penguatan peran bidan dipandang sebagai investasi jangka panjang pembangunan manusia. Ketika ibu mendapat pendampingan yang baik selama kehamilan, bayi lahir dalam kondisi sehat, dan keluarga memperoleh edukasi kesehatan yang memadai, maka fondasi menuju Indonesia Emas 2045 akan semakin kokoh.(har)

 

 

Bottom of Form

 


Posting Komentar

0 Komentar