PIODALAN PURA MANDARA GIRI SEMERU AGUNG, MENJAGA HARMONI DI LERENG SEMERU

 

Matahari baru terbit di balik Gunung Semeru ketika pelataran Pura Mandara Giri Semeru Agung di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, mulai dipadati umat Hindu pada rangkaian Piodalan, Kamis pagi. Mengenakan pakaian adat serba putih, mereka datang membawa canang sari, bunga, dan perlengkapan persembahyangan.

Suara kidung suci mengiringi jalannya persembahyangan. Asap dupa mengepul di sela udara pegunungan yang sejuk, sementara umat mengikuti prosesi dengan khidmat.

Piodalan di Pura Mandara Giri Semeru Agung berlangsung sejak 29 Mei hingga 10 Juli 2026. Ribuan umat Hindu dari berbagai daerah, seperti Bali, Lumajang, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, serta sejumlah wilayah lain di Jawa Timur, hadir mengikuti rangkaian upacara.

Bagi umat Hindu, Piodalan merupakan peringatan hari jadi pura yang dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di Pura Mandara Giri Semeru Agung yang berdiri sejak 1992, perayaan tersebut juga menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus menjaga tradisi keagamaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Rangkaian upacara diawali dengan Matur Piuning, dilanjutkan Melasti, kemudian memasuki puncak karya melalui prosesi Tawur Panca Wali Krama sebelum ditutup pada 10 Juli mendatang. Setiap tahapan memiliki makna penyucian diri, menjaga keseimbangan alam, serta ungkapan syukur atas kehidupan.

Pengurus Harian Pura Mandara Giri Semeru Agung, Wira Dharma, mengatakan Piodalan merupakan bentuk rasa syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan melalui alam semesta.

"Ini merupakan wujud dari rasa syukur kami terhadap alam semesta yang telah memberikan berkah kepada kita semua," kata Wira.

Menurut dia, Piodalan dilaksanakan dalam tiga tingkatan, yaitu setiap satu tahun, lima tahun, dan sepuluh tahun. Masing-masing memiliki tata upacara yang berbeda sesuai dengan ketentuan dalam tradisi Hindu.

Selain menjadi kegiatan keagamaan, Piodalan juga mencerminkan penerapan filosofi Tri Hita Karana yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Bagi Wira, nilai tersebut tidak hanya diwujudkan dalam ritual keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

"Ini bentuk keberagaman agama yang saling berdampingan," ujarnya.

Kerukunan itu tampak selama pelaksanaan Piodalan. Masyarakat sekitar yang berasal dari berbagai latar belakang agama turut membantu menjaga keamanan, mengatur lalu lintas, hingga menyambut para tamu yang datang dari berbagai daerah.

Kondisi tersebut menjadikan Senduro dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kehidupan masyarakat yang relatif harmonis di tengah keberagaman.

Selain memiliki nilai spiritual, Piodalan juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selama rangkaian kegiatan berlangsung, ribuan umat yang datang meningkatkan aktivitas perdagangan di kawasan sekitar pura. Warung makan, penginapan, pedagang bunga, perlengkapan persembahyangan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memperoleh tambahan pendapatan.

"Juga mengangkat ekonomi warga sekitar yang memang masih rendah," kata Wira.

Pura Mandara Giri Semeru Agung selama ini juga menjadi ruang pertemuan umat Hindu dari berbagai komunitas, seperti Bali, Jawa, dan Tengger. Mereka membawa tradisi masing-masing, namun dipersatukan dalam pelaksanaan ibadah dan rasa syukur atas kehidupan.

Di tengah perkembangan zaman, pelaksanaan Piodalan menunjukkan bahwa tradisi keagamaan tidak hanya berfungsi menjaga nilai spiritual, tetapi juga memperkuat identitas budaya, mempererat hubungan sosial, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bagi masyarakat Senduro, kerukunan tidak dibangun melalui kesamaan keyakinan, melainkan melalui sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu terus dipelihara bersamaan dengan pelaksanaan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Piodalan Pura Mandara Giri Semeru Agung menjadi salah satu contoh bagaimana praktik keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan semangat toleransi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat di lereng Gunung Semeru.(har)

 


Posting Komentar

0 Komentar