Lumajang, Suara Semeru - Di lahan sederhana di Dusun Lemah Gatel, Desa Jengrong, Kecamatan Ranuyoso, sebuah perubahan mendasar dalam cara pandang bertani mulai terbentuk. Komoditas lokal Pasak Kresek Majang tidak lagi sekadar dipahami sebagai tanaman pisang, tetapi berkembang menjadi pintu masuk menuju sistem pertanian yang lebih mandiri dan memiliki nilai ekonomi berlapis.
Pada lahan seluas 0,4 hektare milik Kelompok Tani Pager
Gunung, sekitar 350 pohon pisang berusia lima bulan tumbuh subur. Namun,
dinamika yang muncul melampaui pertumbuhan fisik tanaman. Bahkan sebelum buah
dihasilkan, permintaan pasar terhadap bibit sudah lebih dulu meningkat.
Fenomena ini menandai pergeseran penting, bahwa nilai ekonomi kini tidak hanya
bergantung pada hasil panen, tetapi dimulai sejak tahap awal produksi.
Ketua Poktan Pager Gunung, Sarui, menyebut kondisi ini
sebagai titik balik bagi petani. Menurutnya, tingginya minat terhadap bibit
menunjukkan bahwa Pasak Kresek telah memasuki fase baru sebagai komoditas yang
tidak hanya menjual hasil, tetapi juga sistem budidaya. Pembibitan kini dilihat
sebagai sumber pendapatan strategis yang mampu memperkuat ekonomi petani.
“Transformasi tersebut tidak terjadi secara instan,”
ungkapnya, saat dikonfirmasi Radio Semeru FM Rabu 6 Mei 2026.
Proses pembelajaran melalui Sekolah Lapang mandiri dengan
pendampingan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) menjadi
fondasi perubahan. Petani mulai mengadopsi pendekatan berbasis pengetahuan,
memahami siklus tanaman, teknik pembibitan, pengendalian hama, hingga
pengelolaan kesehatan tanah secara lebih terstruktur.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah metode pecah
bonggol dalam pembibitan. Teknik ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi
juga mendorong kemandirian petani karena mampu menghasilkan bibit sendiri
dengan kualitas yang terjaga. Di sisi lain, penggunaan agen hayati seperti
Trichoderma dan Metarizium memperkuat praktik pertanian yang lebih ramah
lingkungan dan berkelanjutan.
Koordinator POPT Kabupaten Lumajang, Waspodo Budi, menilai
perubahan ini mencerminkan pergeseran pola pikir petani. Ia menegaskan bahwa
keberhasilan pertanian tidak lagi semata ditentukan oleh hasil panen, tetapi
oleh kemampuan petani dalam memahami dan mengelola sistem secara menyeluruh.
Meski memiliki prospek besar, pengembangan Pasak Kresek
Majang tetap menghadapi tantangan. Perkumpulan Petani Pangan Nasional (P3NA)
Jawa Timur menekankan pentingnya penguatan tata kelola, khususnya dalam menjaga
standar kualitas bibit dan stabilitas pasar agar pertumbuhan komoditas ini
tetap terarah dan berkelanjutan.
Kini, Pasak Kresek Majang tidak hanya menjadi komoditas
lokal, tetapi juga simbol transformasi pertanian. Dari inovasi sederhana,
kolaborasi, dan kemauan untuk belajar, petani mulai membangun sistem ekonomi
yang lebih tangguh. Dari bibit yang ditanam hari ini, Lumajang sedang merintis
masa depan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga mandiri dan
berdaya saing. (yon)

0 Komentar