POTENSI EMAS LAUT SELATAN LUMAJANG TERHAMBAT INFRASTRUKTUR, IKAN EKSPOR MASIH “HIJRAH” KE SURABAYA

Lumajang, Suara Semeru - Potensi perikanan di wilayah Pesisir Selatan Kabupaten Lumajang, khususnya Kecamatan Tempursari, tergolong melimpah dan bernilai ekonomi tinggi. Setiap hari, nelayan setempat mampu memanen berton-ton ikan layur dengan kualitas ekspor yang sangat diminati pasar internasional, terutama Korea dan China.

Namun, kekayaan laut tersebut belum sepenuhnya bermuara pada penguatan ekonomi daerah. Keterbatasan infrastruktur, terutama ketiadaan pelabuhan perikanan, membuat Kabupaten Lumajang belum mampu mengelola hasil lautnya secara mandiri.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lumajang, Yuli Harismawati, SP, M.Ling, mengungkapkan bahwa selama ini seluruh hasil tangkapan ikan layur dari Tempursari harus didistribusikan melalui jalur darat menuju pengepul di Surabaya.

“Di Surabaya, ikan-ikan tersebut dimasukkan ke dalam cold storage sebelum dikapalkan ke Korea dan China. Pemerintah Kabupaten Lumajang belum memiliki data riil terkait volume tangkapan harian karena seluruh aktivitas logistik dan pencatatan dilakukan di pelabuhan lain,” ujarnya, Senin 5 Januari 2026.

Kondisi ini dinilai merugikan daerah. Selain kehilangan kendali data produksi, Lumajang juga kehilangan peluang besar dalam pencatatan nilai ekonomi, optimalisasi retribusi, hingga penguatan ekosistem industri perikanan lokal.

Padahal, menurut Yuli, nelayan Lumajang memiliki kecakapan yang mumpuni dalam memetakan lokasi dan waktu tangkap. Keunggulan tersebut menjadi modal sosial penting dalam pengembangan sektor perikanan berkelanjutan. Tidak hanya ikan layur, Kabupaten Lumajang juga pernah tercatat sebagai salah satu produsen utama lobster, dengan puncak panen terjadi setiap bulan November.

Ia menjelaskan, upaya pembangunan pelabuhan perikanan sejatinya telah diperjuangkan sejak tahun 2020. Namun hingga kini, rencana tersebut belum juga terealisasi karena berbagai kendala, termasuk keterbatasan anggaran dan dukungan lintas sektor.

“Tanpa pelabuhan, potensi emas dari laut selatan akan terus keluar dari Lumajang tanpa meninggalkan catatan ekonomi yang utuh bagi daerah,” tegasnya.

Situasi ini menjadi cerminan persoalan struktural yang kerap dihadapi daerah penghasil sumber daya alam: produksi tinggi, namun nilai tambah justru dinikmati wilayah lain. Tanpa intervensi kebijakan yang serius, pembangunan infrastruktur pelabuhan berisiko terus tertunda, sementara potensi perikanan Lumajang tetap mengalir keluar tanpa memberikan dampak maksimal bagi kesejahteraan nelayan dan pendapatan daerah. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar