ALI MUSLIMIN : TOKOH DISABILITAS YANG TIDAK PERNAH LELAH BERBAGI UNTUK SESAMA

    

Pak Min, begitu nama panggilan Ali Muslimin. Pria yang lahir di Lumajang pada tanggal 12 Januari 1963 itu, dikenal sebagai tokoh disabilitas yang tidak pernah lelah berbagi untuk sesama. Keterbatasan fisiknya tidak menjadi penghalang berbuat baik untuk orang lain. Segala aktivitas sosial yang ia jalani, diakui merupakan panggilan jiwanya.
       “Kita memang harus meluangkan waktu untuk membantu meringankan masalah orang lain. Insyaallah hidup kita akan dilapangkan oleh Allah SWT,” tutur pria yang memiliki 9 bersaudara itu, ketika menjadi narasumber di program Bincang Bincang Santuy (BBS) Radio Semeru FM yang diasuh dua penyiar kondang Nuris Hamzah dan Ferry Sinaro pada Senin (10/8) malam. 
 
MEMBANTU SESAMA JUSTRU MERASA TENANG, NYAMAN, DAN REZEKI MELIMPAH
     Langkahnya untuk terjun dan fokus pada persoalan sosial sudah ia rasakan manfaatnya. Menurut Pak Min, dibandingkan ketika dirinya fokus pada pekerjaannya sebagai pengusaha dulu, perbedaannya sangat jauh. “Dulu kita bekerja itu selalu diburu waktu untuk dapat uang dan kejar setoran, tapi kenikmatan untuk diri kita dan keluarga tidak bisa dirasakan. Sekarang ini setelah banyak membantu meringankan masalah orang lain saya rasakan manfaatnya. Merasa nyaman dan tenang dengan sering membantu sesama. Alhamdulillah, rezeki juga semakin bertambah,” lanjut suami dari Jamilah itu.
      Ditanya Nuris Hamzah dan Ferry Sinaro berkaitan dengan kegiatan sosial yang paling banyak dilakukan bersama Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Lumajang, Pak Min menuturkan, kegiatan yang sering ia lakukan adalah memba
ntu warga kurang mampu yang terkena penyakit katarak. “Yang terbanyak katarak. Saya tidak ingin anggota difabel bertambah gara-gara saudara kita yang sakit katarak menjadi buta karena tidak diobati,” kelakarnya disambut tawa bersama dengan Nuris dan Ferry. Selain katarak, lanjut Pak Min, operasi bibir sumbing dan penyakit lainnya seperti paru dan hidrosefalus juga masuk dalam penanganannya.
      Ditanya soal donatur, pria yang rumahnya di Jalan Denok, Gang SD Inpres nomor 2, Desa Tukum, Kec. Tekung, ini menjelaskan, dibawah kepemimpinanya PPDI Lumajang tidak pernah menarik donatur dalam berbagai kegiatan sosial. Namun ia hanya melakukan kegiatan dengan mencari fasilitas, contohnya rumah sakit yang tidak berbelit-belit atau dokter yang sangat peduli masuk dalam radarnya.  “Itu yang kita ajak untuk melakukan kegiatan sosial,” pungkasnya.
       Selain rumah sakit dan dokter, kegiatan sosial yang ia lakukan juga kerap kali mendapat bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Lumajang. “Kita yang utama memang memperjuangkan teman-teman disabilitas, namun seiring berkembangnya kemitraan dengan berbagai orang-orang baik, kita bisa membantu masyarakat secara luas,” tandas anak ke 5 dari 9 bersaudara itu.

 
 
SEMINGGU DUA KALI ANTAR PASIEN KATARAK DAN BIBIR SUMBING KE SURABAYA DAN PANDAAN
      Keterbatasan fisik, bagi Pak Min, tidak akan pernah menjadi penghalang untuk tidak peduli kepada orang lain. Mungkin itu pelajaran yang bisa kita petik dari sosok Pak Min. Ketua PPDI Lumajang yang hanya memiliki satu lengan kiri ini, bagi sebagian orang, cacat tubuhnya itu bisa saja dianggap sebagai kekurangan. Namun bagi Pak Min, ayah lima anak ini, justru menilainya sebagai anugerah yang memacu dirinya untuk terus berbuat lebih berguna bagi orang lain.
      Dan semangat hidup serta jiwa sosialnya untuk terus membantu sesama itu kini menurun ke anaknya. “Kalau dulu saya yang bolak-balik Lumajang-Surabaya dan Pandaan seminggu dua kali mengantar pasien katarak dan bibir sumbing untuk menjalani pengobatan, sekarang tugas rutin itu sudah dijalankan anak saya,” jelas pria lulusan MI Al Ittihad Tukum angkatan 1972 itu.
      Pengusaha makanan ringan yang piawai mengendarai mobil dengan transmisi manual itu bertekat mendedikasikan hidupnya sebagai relawan disabilitas dan sosial. Bahkan untuk mendukung aktivitasnya itu, kini di setiap kecamatan ia sudah membentuk koordinator agar bisa menginformasikan jika ditemukan masyarakat kurang mampu dalam kondisi sakit baik katarak, bibir sumbing maupun lainnya, agar secepatnya diinformasikan kepada dirinya. “Untuk penyakit katarak biasanya kita dalam seminggu itu mengirim untuk pengobatan antara 15-25 pasien ke Surabaya dan Pandaan,” ungkapnya.
      Pria kelahiran Tukum yang pernah keliling Indonesia ini memang terlihat jauh dari kesan ramai dalam penampilan kesehariannya. Tidak heran banyak pihak yang memandangnya dengan sebelah mata. Tetapi anggapan miring itu berbalik 180 derajat ketika tahu Pak Min tersebut justru sangat dicari dengan mereka yang membutuhkan bantuannya. Apalagi kini armada minibus yang dikelolanya malah ia manfaatkan untuk mengantar jemput para difabel ketika beraktivitas atau bahkan berobat.
 
 
MERAIH BANYAK PRESTASI BIDANG OLAH RAGA
      Dalam sebuah organisasi olah raga prestasi para penyandang disabilitas yang merupakan satu-satunya wadah bagi difabel, nama Ali Muslimin atau Pak Min ini sudah tidak asing lagi. Apalagi ia juga menjabat sebagai Ketua National Paralympic Committee (NPC) Lumajang.
      Dalam bidang olah raga, setelah lulus dari SMP Islam Lumajang pada tahun 1979, kepiawaiannya dalam lomba lari patut diperhitungkan. Bakat larinya itu baru diketahui ketika ia berada di pusat rehabilitasi penyandang disabilitas Solo, Jawa Tengah. “Di sana baru saya asah bakat lari saya, meskipun bakat itu sudah ada sejak saya sekolah SD dan SMP. Karena dari kecil saya sudah hobi lari dengan teman-teman sekolah dan teman bermain sehari-hari,” aku Pak Min yang juga lulusan SMA Islam Lumajang pada tahun 1983 tersebut.
      Selain lari, dalam bidang olah raga lain salah satunya renang, pria dengan satu lengan ini patut diperhitungkan, apalagi namanya di NPC sudah tidak asing lagi pada masa itu. “Meskipun saya hanya punya satu lengan atau tangan, soal renang bisa dibilang jagolah untuk kalangan difabel. Bagaimana kita tidak jago renang, lha wong saya kecilnya itu hampir setiap hari renang di Dam Tukum,” kelakarnya diiringi tawa riang bersama Nuris dan Ferry.
      Masih di bidang olah raga, Pak Min juga pernah punya keinginan yang cukup mengejutkan. Pria dengan 5 anak ini nyaris nekat memotong lengannya, agar bisa ikut event olah raga tingkat dunia. Itu hampir ia lakukan karena syarat wajib berangkat dalam olah raga bergengsi tingkat dunia hanya dengan memotong lengannya, otomatis ia masuk kategori cacat karena amputasi, sedangkan cacat bawaan Pak Min tidak masuk dalam kategori tersebut.
 
      “Syaratnya cacat tubuh lain. Baru saya diperbolehkan ikut dalam olah raga tersebut. Akhirnya saya sempat nekat mau memotong tangan saya ini. Namun ketika izin ke orang tua, langsung ditolak,” jelasnya. Selain melarang, kedua orang tuanya juga megingatkan agar ia selalu bersyukur dengan pemberian Tuhan dan tidak boleh memiliki keinginan yang neko-neko, salah satunya dengan memotong tangannya.
 
MULAI MEMBUKA DIRI SAAT KELAS 3 SMP
      Meskipun pada masa kecilnya Pak Min sudah merasa sangat bahagia, karena hidup dalam keluarga yang harmonis, namun soal pergaulan dengan teman sebayanya kala itu, ia masih sangat dibatasi oleh kedua orang tuanya.
      Seperti anak kecil pada umumnya, Pak Min pada masa kecilnya juga kerap ikut orang tuanya bepergian. Namun banyaknya anak kecil yang suka melihat cacat fisiknya, kedua orang tuanya kemudian melarangnya untuk ikut. “Waktu itu, kemana saja orang tua pergi saya kepingin ikut. Namun orang tua iba, karena kemana pun saya pergi selalu diikuti anak kecil yang ingin melihat tangan saya. Sehingga orang tua melarang saya bepergian dengan mereka ya karena iba,” jelasnya.
      Akibatnya, pada masa itu ia tidak bisa bergaul bebas seperti halnya anak pada umumnya. Kondisi ini berdampak pada pergaulannya di sekolah SD. Sehingga ia baru membuka diri kepada teman-teman seusianya kala itu ketika masuk jenjang SMP. “Nah, pada saat saya kelas 3 SMP, saya mulai membuka diri, tetapi masih sebatas teman cowok saja. Kalau cewek belum, karena kalau ke teman cewek saya takut dan dikira naksir, padahal pingin kenal saja,” guraunya.
      Meskipun ia sempat minder, dirinya mengaku bersyukur semua teman sekolahnya kala itu tidak ada satu pun yang menjadikan dirinya sebagai bahan olok-olokan ketika bercanda. “Teman sekelas saya itu tidak ada yang begitu, ya mungkin karena mereka tahu kekurangan saya ini. Sehingga mereka tidak melakukan itu dan malah mensuport semua kegiatan saya dan memberikan motivasi meski kondisi fisik saya cacat,” tuturnya.
 
KISAH CINTA ALI MUSLIMIN DENGAN JAMILAH
      Sebelum Jamilah menjadi istri dari Pak Min, banyak pria lain yang mendekati untuk menjadi jodohnya. Namun berbagai pendekatan itu, hanya berlalu begitu saja di mata Jamilah. “Banyak pria yang ditawarkan ke istri saya, namun istri saya menolaknya,” ungkap Pak Min ketika menceritakan dari awal perjalan cintanya dengan Jamilah.
       Kemudian tiba giliran dia yang ditawarkan kepada Jamilah oleh orang tuanya. “Waktu itu yang ditawari itu bukan saya, tapi istri saya oleh orang tua. Ia tidak menjawab ya atau tidak, hanya diam saja kala itu,” jelasnya sambil mengenang awal perjalanan cintanya dengan istri tercinta Jamilah.
      Ditanya Ferry dan Nuris terkait respons Pak Min saat pertama kali melihat calon istrinya yang mau dijodohkan dengan dirinya, ia mengaku tertarik dan langsung menaruh hati. “Ya alhamdulillah, saya waktu itu melihat istri saya kok tertarik dan langsung terpesona. Tapi saya tidak tau, istri saya itu tertarik pada saya atau tidak..ha..ha...” ungkap Pak Min disambut gelak tawa Ferry dan Nuris.
      Selang beberapa minggu kemudian, orang tua Pak Min kembali menanyakan jawaban Jamilah, namun hasilnya masih sama dan bahkan Jamilah tidak mau datang ke rumahnya. “Karena awalnya diam dan kemudian tidak datang ke rumah, saya pikir dia menolak. Akhirnya saya nekad menemuinya untuk menjelaskan kalau perjodohan ini adalah keinginan orang tua saya bukan kemauan saya,” imbuhnya.
      Dari hasil pertemuan itu, masih kata Pak Min, Jamilah kemudian memberikan sinyal menerima cintanya. “Waktu saya tanya ia malah menjawab tidak datang ke rumah bukan karena menolak perjodohan, namun karena menerimanya. Mendengar jawaban itu ya saya senang,” jelasnya sambil tertawa.
      Tidak hanya itu, untuk melihat keseriusan cinta Jamilah, Pak Min mengajaknya berjalan-jalan dan bermain ke rumah temannya yang mempunyai suami cacat seperti dirinya. “Ia saya kenalkan dengan teman saya yang suaminya juga cacat. Tujuan saya satu, meyakinkan dia supaya tahu soal suka duka sebagai calon istri difabel itu seperti apa. Agar tidak kaget,” ungkapnya.
      Setelah mendapat masukan dari temannya, keseriusan Jamilah untuk menjadi istrinya semakin bulat. Atas dasar itu pulalah kemudian mereka melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Kini Pak Min dan Jamilah sudah dikaruniai 6 anak, tapi 1 sudah meninggal dunia. “Anak saya yang hidup itu putri 2 dan putra 3. Untuk anak yang pertama sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak, kemudian yang ke dua baru berkeluarga dan kini sering bantu saya untuk hilir mudik antar pasien ke Lumajang-Surabaya, sementara yang 3 masih kecil-kecil,” ujarnya.
      Pada bagian akhir dialog BBS, Pak Min berharap agar pemerintah bisa mewujudkan Lumajang menjadi kabupaten ramah disabilitas. Apalagi peran dari para difabel sendiri untuk kemajuan Lumajang tidak sedikit.
      “Kami ini juga punya andil mengukir prestasi untuk Lumajang, sehingga harapan kami cuman itu, agar keberadaan kami ini tidak dipandang sebelah mata,” pungkasnya. (YONI)

 






Posting Komentar

0 Komentar